November 12, 2010

Teruntuk pahlawanku

Dan awan panas itu menerjang tubuhnya dan tubuh anak kecil didekapannya. 
"Ibu, pardi pulang bu......"

Sebelumnya :
Tengah malam tadi dia terbangun dari mimpinya bukan karena nyamuk yang berkeliaran menghisap darah dari tubuh tegapnya, namun sayup-sayup dia mendengar suatu panggilan meminta tolong. Awalnya tak dihiraukan suara - suara itu, dan dia berbalik memaksa matanya untuk terlelap. Apalah daya dalam lelapnya pun dia melihat puluhan tangan terangkat meminta pertolongan. Lalu dia balikkan lagi punggung lelahnya, dan tersadarlah ia akan tangisan dan rintihan orang - orang yang bahkan tidak ia kenal.Dan ia putuskan tidak akan melanjutkan tidurnya.

Pagi ini dilaluinya seperti biasa, bergerak dari ranjang besi tua, ia bergegas mengambil handuk lalu menyiram kepala peningnya lantaran gangguan semalam dengan air dingin hasil menimba dari sumur. Brrrrr ucapnya, dingin tapi ia teruskan hingga selesai.
Selesai mandi dia berganti baju dengan baju kebanggaan putih hitam dan bergegas  duduk didepan meja makan, rupanya mie rebus sudah menunggu untuk disantap. Hari ini gilirannya shift pagi di hotel depan gang.

Hari ini bukan tanggal merah, hotel tempatnya bekerja tampak lengang,tidak banyak mobil di area parkir. Dia tak suka keadaan ini, dia perlu ekstra kesibukan untuk menghalau kejadian semalam. Hari terasa lebih lambat dari biasanya.

Bergejolak hatinya memikirkan yang semalam, logika diputar keras untuk menjawab pertanyaan  apa makna dibalik semuanya. Apa sesungguhnya yang ia rasakan, apa yang membuat bayangan-bayangan itu mondar-mandir dipikirannya, apa namanya semua itu??

Tuhan, aku bukanlah anakMu yang hormat dan patuh, banyak kesalahan yang sudah kubuat, banyak keraguan padaMu yang mungkin membuatMu terluka. Tapi sungguh aku bingung dengan bayangan -bayangan itu. Tuhan bahkan aku tidak yakin doa ku benar, aku sudah lupa bagaimana cara menangkupkan tangan, haruskah kututup mataku atau bolehkah kubiarkan terbuka.....Tuhan bagaimanapun itu, inilah doaku.

Entah kapan doa itu terjawab, mungkin seperti teman-temanku yang tak mampu menjawab........sebegitu putus asanya kah aku? Duhh Gusti, maafkan keraguanku ini.

Siang sudah bersiap menjemput pagi, tapi pening dikepalanya belumlah hilang bahkan setelah berdoa. Lapar bersepakat dengan pening menyiksa dirinya." Mungkin lebih baik menonton televisi" gumamnya. Tapi hari itu semua channel menyiarkan  berita yang sama, berita tentang bayangannya semalam. Menepi dia menghadapkan kepalanya keluar, mencoba mencari jalan keluar atas kebingungannya.

Sebenarnya dia tahu Tuhan sudah menjawab doanya, masalahnya adalah dia tidak mengharapkan jawaban yang itu. Bukan jawaban yang itu.

Logika dan hati berkecamuk saling berbenturan. Kekuatan seimbang, kini tinggalah pilihan, semoga Ibu berkenan.

Bergegas, dia meminta ijin pulang cepat kepada sang Kepala. Bertahun dia mengabdikan dirinya baru kali ini dia meminta haknya untuk pulang cepat, sang Kepala mengiyakan dengan ringan saja.

Aneh, tiba-tiba saja pening dikepalanya hilang terangkat tanpa sisa, ringan saja yang tertinggal.
Langkahnya terasa lebih lebar dibandingkan hari biasa, dia harus cepat sampai kerumah.

Siang terik dia melihat ibunya bersiram matahari sambil menjemur krupuk untuk makan nanti malam. "Ibuku makin hari makin menua, tak tega rasanya meninggalkan dia tapi....." bimbangnya menyeruak kembali.

Keputusan besar dan tulus yang pernah dia ambil dalam hidupnya adalah saat itu. Ibunya meneteskan air mata bukan karena sedih mendengar keinginan anaknya, tapi karena kebanggaan dan yaa kebanggaan. Tak sia-sia semua kasih dan pengajaran yang ia berikan pada anaknya. Tiba-tiba ia ingat mendiang suaminya yang meninggal karena tabrak lari dan tak ada satupun manusia yang mau menolong. Andai saja ada orang yang terketuk hatinya seperti anaknya yang kini terketuk  nuraninya, dia masih tetap bernafas sampai hari ini mungkin.

"Ya..ya, saya mau bergabung dengan rombongan anda hari ini juga".
Ringan langkahnya sekarang, " Ibu, anakmu ini pasti pulang selamat" janjinya.
Dia masukkan beberapa kaos ke dalam tas ransel yang diambil dari pojokan lemari. "Kaos kaki, celana, handuk,balsem.... apa lagi ya?" 

Ini yang aku bisa, tenagaku dan sedikit kemampuan P3K, semoga berguna.

Saatnya berangkat, matahari sudah semakin meninggi. 

Tangan renta itu dia salami dengan khusyuk sembari memohon doa yang pasti terluncur keluar tanpa harus dipinta. "Ibu, aku pasti pulang" ucapnya diantara senggukan tangis.

Ramin, ibunya kini tinggal sendirian menghabiskan sisa usia dengan kebanggan tiada tara.
Supardi sang pemberani, pahlawan ibunda
Tak perlu tercetak dibuku  sejarah, Pardi tetap pahlawan ibu
Hingga akhir usia nanti, ibu akan tersenyum karena Pardi anak ibu, pahlawan sejati.






No comments: